photo AB230x90gif_zps839436ce.gif

Murka Ahok ke Wali Kota Dipicu Penggusuran: dari Anas hingga Rustam


Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) murka saat menerima banyak laporan warga tentang pelanggaran penggusuran. Dia tidak segan-segan mengancam memecat Wali Kota bila yang terbukti bersalah.

Terbaru, Ahok naik pitam saat menerima laporan dari Andre, warga Tambora, Jakarta Barat, yang mengaku menjadi korban salah gusur rumah oleh Wali Kota Jakarta Barat, Anas Effendi. Padahal, Andre mengaku memiliki dokumen-dokumen resmi. Menerima laporan Andre, Ahok langsung mengangkat telepon dan menghubungi Anas. Dia meminta Anas bertanggung jawab atas kasus ini.

“Eh Pak Wali, kamu bongkar-bongkar rumah orang. Salah alamat lagi. Ini ada pengaduan, saya lihat kamu ngacau. Nanti urus sama orang saya ini, tanyain sama dia yang mana. Sertifikatnya di mana, yang dibongkar di mana. Jangan jadi centeng-centeng orang lu,” semprot Ahok.

Laporan pelanggaran penggusuran, kata Ahok, bagai menjamur di Jakarta Barat. Ahok siap mengumpulkan buktinya dan menjatuhkan sanksi atas pelanggaran itu. Atas tudingan Ahok, Anas mengatakan dirinya bukan centeng dan telah bekerja melayani masyarakat.

Konflik Ahok dengan Wali Kota juga pernah terjadi saat penggusuran Kalijodo, Jakarta Utara. Ketika itu, Ahok marah dengan Wali Kota Jakarta Utara, Rustam Effendi, yang kerap membantah perintahnya menyusul penertiban di Kalijodo.

Ahok bahkan menyebut Rustam telah berkongsi dengan bakal calon gubernur DKI Yusril Ihza Mahendra karena tidak mau segera menertibkan permukiman-permukiman yang menghalangi saluran air di Jakarta Utara. Akhir cerita, Rustam mengundurkan diri dan dimutasikan ke Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) DKI Jakarta.

Berikut 3 kisah Ahok berseteru dengan wali kota

Andre mengungkapkan kepada Ahok bahwa rumahnya telah digusur secara sepihak oleh Wali Kota Jakarta Barat.Keluarga Andre sudah tinggal di rumah itu sejak 1973-1974. Ia kaget Wali kota tiba-tiba datang untuk menggusur rumahnya.

“Terus tahu-tahu Pak Wali itu (bilang) ada yang punya. Jadi kami tunjukkan surat ini bahwa kami kan nanya ke Pak lurah. Pak lurah itu bilang bukan, itu sertifikat bukan di atas alamat kami. Kami sudah keluar surat ini, jadi tenang,” kata Andre di Gedung Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (22/9/2016).

“Tahu-tahu Pak Wali datang ngebongkar rumah saya. Dia cuma ngasih surat pemberitahuan 1×24 jam. Ini lahan pribadi, tapi Pak Wali sebagai backing dan pengacaranya mafia tanah. Rumah saya dibongkar tanpa putusan pengadilan,” ujar dia.

Begitu mendengar keluhan serta mengecek dokumen sertifikat dari warga, Ahok langsung naik pitam dan menelepon Anas Effendi.

“Eh Pak Wali, kamu bongkar-bongkar rumah orang. Salah alamat lagi. Ini ada pengaduan, saya lihat kamu ngaco. Nanti urus sama orang saya ini, tanyain sama dia yang mana. Sertifikatnya di mana, yang dibongkar di mana,” ungkap Ahok kesal.

“Jangan jadi centeng-centeng orang lu,” lanjut Ahok.

Ahok mengatakan pemerintah administratif di wilayah Jakarta Barat paling banyak melakukan tindakan pelanggaran dalam hal penggusuran. Ia akan menelusuri laporan-laporan tersebut dan mengambil tindakan kepada Wali Kota Jakarta Barat, termasuk salah satunya kemungkinan pemecatan.

“Makanya saya cek karena Wali Kota jangan jadi centeng. Kurang ajar banget main gusur-gusur. Sering, (Jakarta) Barat paling banyak masalah. Jakarta Barat paling banyak masalah, banyak laporan kepada Wali Kota dia banyak main tanah lah, belain orang enggak bener lah,” kata Ahok di Gedung Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (22/9/2016).

Selain mengecek dokumen milik Andre, Ahok segera mengumpulkan bukti-bukti. Dia juga akan menjatuhkan sanksi apabila terbukti ada pelanggaran dalam penggusuran itu.

“Paling pecat kan saya udah mulai pecat orang saya. Kami buktiin aja. Kami mesti periksa, lagi suruh staf periksa. (Pecat) nanti aja kalau dia masalah kriminal, kalau memang dia salah kita pidanain. Kalau pidana, copot otomatis. Kalau emang terbukti salah, suruh Wali Kotanya lah (ganti rugi). Kayak begitu dia,” lanjut Ahok.

Wali Kota Jakbar Anas Effendi tidak terima dengan tudingan Ahok terkait salah gusur rumah warga.

“Saya bukan centeng, saya melayani masyarakat,” jelas Anas saat berbincang dengan detikcom, Kamis (22/9/2016).

Anas menjelaskan, apa yang dia lakukan hanya melayani masyarakat. Tidak ada urusan lain.

Lalu bagaimana dengan soal salah gusur dan bahkan lurah setempat menyebut juga salah?

“Makanya kita rapat dulu, kita cek, kita koordinasikan,” tutur dia.

Ahok sempat curiga dengan Rustam yang tidak mau segera menertibkan permukiman-permukiman yang menghalangi saluran air. Padahal saluran air perlu dibikin lancar supaya banjir tidak menggenang.

Merasa dibohongi, Ahok menuding Rustam berpolitik dan menuduhnya sebagai orangnya Yusril Ihza Mahendra.

“Aduh, ini Pak Wali kota ini saya selalu bilang begini Pak Wali, Pak Wali kalau saya suruh usir orang itu wah ngeyelnya, ngeles,” kata Ahok kesal, kepada Rustam dalam rapat tadi.

“Jangan-jangan satu pihak sama Yusril ini, supaya…,” tuding Ahok namun tak melanjutkan kalimatnya.

Rustam tidak terima tudingan Ahok. Dia memilih mengundurkan diri dari jabatannya saat ini, tapi tidak mengundurkan diri dari PNS. Rustam mundur karena ingin mengakhiri kekisruhan. Dia dimutasikan ke Badan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) DKI Jakarta.

 garudaqq.org  http://adukiukiu.com/  inidewa365.org photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About BERITA INDONESIA

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Poskan Komentar