photo AB230x90gif_zps839436ce.gif

Dilema Masyarakat Adat di Tengah Kebakaran Hutan Kalimantan


Praktisi Adat Dayak dan pengurus Dewan Adat Dayak Nasional, Paulus Florus mengingatkan semua pihak untuk tidak melakukan kriminalisasi kepada para peladang dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Karena menurutnya, kebiasaan para petani membakar ladang untuk ditanami padi selalu mengacu kepada kearifan lokal. "

Buka ladang dengan sistem bakar sudah dilakukan turun-temurun dan menjadi kearifan lokal," kata Paulus Florus di Pontianak, Kamis, (1/9/2016).

Paulus juga menanggapi penangkapan warga oleh polisi dan TNI karena membuka ladang dengan sistem bakar selama musim kemarau 2016.

Langkah penegakan hukum dilakukan Polri dan TNI, mengacu kepada instruksi Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi).

"Saya tidak menyalahkan TNI dan Polri yang telah melaksanakan tugas dengan baik, sesuai instruksi Presiden Jokowi.

Tapi ada sistem kearifan lokal yang mesti dihargai, di saat belum ditemukan teknologi aplikatif yang murah dan mudah, tentang sistem buka lahan di luar cara dibakar," kata Paulus Florus.

Dikatakan Paulus Florus, agar tidak terjadi praktik kriminalisasi terhadap petani, kepala daerah seperti gubernur, bupati, dan wali kota harusnya bersinergi dengan TNI dan Polri. Dalam mewujudkan sinergitas, dibutuhkan suatu pos komando aplikatif tempat berdiskusi dan evaluasi.

Dari hasil diskusi tentunya muncul suatu aksi mengikat di lapangan di dalam menangani karhutla, sehingga tidak terjadi praktik kriminalisasi terhadap petani tradisional yang sudah turun-temurun membuka ladang dengan sistem bakar.

Kuncinya para petani mesti dibina dalam membuka ladang dengan sistem bakar. Di antaranya membangun sekat bakar, agar api tidak meluas. Perlu pula diterapkan aturan internal berupa membakar ladang dengan sistem bergilir, agar asapnya tidak meluas.

"Ini hanya bisa terjadi kalau Kepala Daerah yang dimotori Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), terus aktif berkomunikasi dengan Polri dan TNI," ungkap Paulus Florus. Paulus Florus menegaskan, petani tradisional, terutama kalangan Suku Dayak, selalu melakukan aktivitas pertanian di lahan kering, yakni Persulit Merah Kuning (PMK).

Paulus Florus mengatakan, munculnya kebakaran hebat setiap musim kemarau dalam 20 tahun terakhir, karena terjadi pemanfaatan lahan gambut secara masif untuk aktivitas ekonomi non-konservasi. "Faktanya di Kalimantan, orang Dayak tidak bermukim di lahan gambut," tutup Paulus Florus.

 garudaqq.org  http://adukiukiu.com/  inidewa365.org photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About BERITA INDONESIA

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Poskan Komentar