photo AB230x90gif_zps839436ce.gif

Presdir Paramount Minta Bantuan Eks Petinggi Lippo Tunda Eksekusi Lahan


Selain diperintahkan untuk meminta penundaan proses "aanmaning" atau peringatan eksekusi terhadap PT Metropolitan Tirta Perdana (MTP) dan menerima pendaftaran peninjauan kembali PT Across Asia Limited (AAL), terdakwa Doddy Ariyanto Supeno diinstruksikan untuk meminta penundaan eksekusi lahan milik PT Jakarta Baru Cosmopolitan kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution.

Permintaan pembatalan eksekusi lahan milik PT Jakarta Baru Cosmopolitan itu berdasarkan perintah langsung dari mantan Presiden Komisaris Lippo Group, Eddy Sindoro usai mendengarkan keluhan dari Presiden Direktur PT Paramount Enterprise International, Ervan Adi Nugroho.

Awalnya, Ervan yang juga menjabat sebagai Direktur PT Jakarta Baru Cosmopolitan memperoleh surat dari PN Jakarta Pusat perihal permohonan eksekusi lanjutan atas lahan yang diklaim ahli waris, keluarga Tan Hok Tjioe berdasarkan putusan Raad Van Yustitie di Jakarta pada 12 Juli 1940 Nomor 232/1937.

Kemudian pada November 2014 dan 16 Februari 2015 kuasa hukum ahli waris Tan Hok Tjian mengajukan surat ke PN Jakarta Pusat. Kemudian, surat tersebut didelegasikan ke PN Tangerang agar melakukan eksekusi lahan yang berada di wilayah Tangerang.

"Atas surat tersebut Ervan Adi Nugroho meminta kepada Wresti Kristian Hesti (pegawai bagian legal PT Artha Pratama Anugerah) untuk mempelajari surat tersebut dan memending atau menunda pelaksanaan putusan tersebut dengan meminta tolong kepada Eddy Sindoro," kata Jaksa KPK, Tito Jaelani saat menguraikan amar tuntutan terhadap Doddy di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (31/8/2016).

Setelah mendapat perintah tersebut, Hesti langsung mempelajari surat tersebut dan menyampaikan hasilnya kepada Eddy Sindoro dan Ervan. Intinya dalam surat tersebut harus disamakan dengan surat PN Jakarta Pusat terdahulu dengan mengubah kalimat dalam surat tersebut dari "belum dapat disekskusi" diganti dengan "tidak dapat dieksekusi".

"Wresti Kristian Hesti selanjutnya menemui Edy Nasution menyampaikan permintaan Ervan Adi Nugroho untuk memending pelaksanaan eksekusi putusan tersebut kepada Edy Nasution. Atas permintaan tersebut Edy Nasution menyampaikan bahwa surat tersebut belum dikirim ke mana-mana," beber Jaksa Tito.

Sebagaimana diketahui, Doddy Aryanto Supeno dituntutan lima tahun bui dan denda Rp150 juta subsidair tiga bulan kurungan penjara.

Asisten mantan Presiden Komisaris Lippo Group, Eddy Sindoro itu dinilai telah terbukti bersalah memberi suap Rp150 juta kepada Panitera Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Edy Nasution. Suap yang diberikan itu memiliki hubungan dengan pengurusan sejumlah perkara yang diduga berkaitan dengan Lippo Group, perusahaan milik Mochtar Riady di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Doddy didakwa bersama-sama dengan pegawai (bagian legal) PT Artha Pratama Anugerah Wresti Kristian Hesti, Presiden Direktur PT Paramount Enterprise Ervan Adi Nugroho, dan mantan Presiden Komisaris Lippo Group Eddy Sindoro.

Lippo Group ketika itu tengah menghadapi beberapa perkara hukum. Sehingga, Eddy Sindoro langsung menugaskan Hesti untuk melakukan pendekatan dengan pihak-pihak lain yang terkait dengan perkara tersebut. Eddy Sindoro juga menugaskan Doddy untuk melakukan penyerahan dokumen maupun uang kepada pihak-pihak lain yang terkait perkara.

Uang diberikan agar Edy menunda proses "aanmaning" atau peringatan eksekusi terhadap PT Metropolitan Tirta Perdana (MTP), menerima pendaftaran peninjauan kembali PT Across Asia Limited (AAL) dan menunda eksekusi lahan milik PT Jakarta Baru Cosmopolitan.

Doddy dinilai bersalah melanggar Pasal 5 Ayat (1) huruf a Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 65 Ayat (1) jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

 garudaqq.org  http://adukiukiu.com/  inidewa365.org photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About BERITA INDONESIA

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Poskan Komentar