photo AB230x90gif_zps839436ce.gif

Pemasok PSK ke Malaysia Ditangkap, Begini Modusnya ....!

BERITA INDONESIA

Markas Besar Kepolisian RI menetapkan tiga tersangka tindak pidana perdagangan orang. Pemgusutan kasus ini bermula dari laporan korban berinisial YS pada 3 Mei 2016.

Tiga tersangka itu adalah AR alias VIO, RHW alias Rendi alias Radit, dan SH alias Sarip. AR dan Radit merupakan pasangan suami istri, sedangkan Sarip pegawai biro jasa imigrasi di Jakarta.

Kepala Subdit III Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Komisaris Besar Umar Surya Fana menceritakan, pada Desember 2015 AR alias VIO merekrut YS dan korban lainnya melalui media sosial, di antaranya lewat aplikasi Wechat, Bee Talk, dan Tagged. Mereka dijanjikan dipekerjakan sebagai pegawai salon spa atau restoran dengan gaji Rp 15 juta per bulan.

"Namun begitu sampai di Malaysia mereka dijadikan PSK (pekerja seks komersial)," kata Umar di kantornya,Jakarta Selatan, hari ini, Senin, 1 Agustus 2016.

Sebelum berangkat ke Malaysia, Umar meneruskan, korban dibuatkan paspor di Kantor Imigrasi di wilayah Jakarta menggunakan dokumen palsu. Tersangka Radit yang memesan paspor itu kepada tersangka Sarip seharga Rp 9,5 juta per paspor.

Nama YS di dalam paspor berubah menjadi MSN, nama orang lain yang memiliki paspor. Dia seakan-akan pernah memiliki paspor tapi hilang. Polisi tengah menelusuri keterlibatan pegawai Imigrasi yang menerbitkan paspor tersebut.

Menurut Umar, para korban ditampung di sebuah apartemen di Kelapa Gading, Jakarta Utara, selama 2 minggu hingga 1 bulan. Lalu 12 orang diberangkatkan ke Malaysia secara bertahap. Sesampainya di Malaysia, korban dijemput oleh jaringan tersangka AR, yaitu Koh Afey dan Koh Asem.

Mereka lantas dibawa ke tempat spa di Kuala Lumpur, Ibu Kota Malaysia. Di sana, korban disuruh bekerja sebagai pelacur dan melayani 1 sampai 9 orang setiap hari. "Selama dua bulan tidak digaji dengan alasan korban masih berutang biaya berangkat dan administrasi," ucap Umar.

YS lanntas izin pulang ke kampung halaman dengan alasan orang tuanya sakit. Sesampainya di Indonesia, ia langsung membuat laporan ke Bareskrim Polri pada Mei lalu.

Umar menjelaskan, dari 12 korban asal Jawa Barat dan Jakarta, dua orang di antaranya sudah berada di Indonesia. Limaorang di ruang Detensi Imigrasi Kuala Lumpur, dan 4 orang lagi di rumah perlindungan khas wanita.

Korban lainnya tidak diketahui keberadaannya. Bareskrim kini bekerja sama dengan pihak Kuala Lumpur untuk mencari korban lainnya.

Pada saat AR dan Radit ditangkap, polisi menemukan buku catatan para pelanggan yang dilayani korban sebagai PSK. Buku ini digunakan AR untuk menghitung jumlah fee atau setoran dari jaringannya di Malaysia. AR mendapat 10 Ringgit Malaysia setiap 1 orang pelanggan. Polisi juga menemukan buku tabungan yang berisi transfer uang dari Malaysia berjumlah Rp 17 juta.

AR dan suaminya, Radit, ditahan di rumah tahanan Bareskrim sejak 27 Juli. Esoknya, Sarip ditangkap di halaman kantor Imigrasi wilayah Jakarta. Polisi melanjutkan penggeledahan di rumah Sarip di Cipondoh, Tangerang.

Penyidik menemukan dokumen berupa empat berkas permohonan paspor, fotokopi kartu tanda penduduk, kartu keluarga, dan akta kelahiran. Sarip diduga kuat sebagai sindikat pembuat dokumen palsu untuk pembuatan paspor.

 garudaqq.org  http://adukiukiu.com/  inidewa365.org photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About BERITA INDONESIA

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Poskan Komentar