photo AB230x90gif_zps839436ce.gif

Industri Baja Perlu Dilindungi

BERITA INDONESIA

Industri baja diakui sebagai industri dasar strategis yang harus dipertahankan karena menyangkut industri hilir yang memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. ”Saat ini konsumsi baja belum meningkat.

Namun saat ekonomi tumbuh, maka sektor seperti automotif, konstruksi, akan membutuhkan. Ini yang harus dipenuhi,” kata Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong di sela acara groundbreaking pabrik baja lembar panas Krakatau Steel di Cilegon, Banten, kemarin.

Thomas mengatakan, apabila industri baja tidak diperkuat, saat ekonomi kembali booming serta konsumsi baja meningkat, maka neraca perdagangan bisa jebol karena semua produk baja harus diimpor. Dia menyadari bahwa saat ini industri baja dunia masih lesu. Tak hanya itu, sejumlah produsen besar baja dunia pun tengah membanjiri pasar termasuk di Indonesia.

Namun, seharusnya impor tetap dibatasi untuk melindungi industri baja dalam negeri. Menurut mantan menteri perdagangan ini, pemerintah tegas dalam komitmen untuk mengembangkan industri baja nasional. Salah satunya dengan mewajibkan sejumlah BUMN untuk menggunakan produk baja dalam negeri.

Thomas menambahkan, sepertiga industri di Tanah Air juga tetap harus mendapat perlindungan karena merupakan industri dasar strategis dan menyangkut nasib ribuan industri lainnya di Indonesia. Dia menegaskan, meskipun saat ini era perdagangan bebas, kebijakan yang ada juga tidak lantas terlalu liberal.

”Harus pintar-pintar bermain dan saling menjaga kepentingannya masing-masing, hal ini juga diterapkan negara lain,” tandasnya. Sependapat dengannya, Deputi Menteri BUMN bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Fajar Harry Sampurno mengatakan bahwa industri baja merupakan induk dari industri.

Karena itu, setiap investasi yang dilakukan di sektor ini akan memberikan efek berantai yang positif. Terkait dengan itu, sedangkan Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) I Gusti Putu Suryawirawan mendukung percepatan pembangunan Pabrik Baja Lembar Panas ke-2 PT Krakatau Steel (Persero) Tbk agar selesai tepat waktu untuk mengisi kekosongan di industri hilir.

Produk baja lembar panas dari perseroan ditambah produk serupa dari produsen dalam negeri lainnya menurut dia akan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri ke depan. Dia berharap, ke depan konsumsi baja nasional dapat meningkat mencapai 70 kilogram (kg) per kapita dari saat ini sekitar 40 kg per kapita.

Untuk itu, Kementerian Perindustrian telah mewajibkan penggunaan baja dalam negeri melalui kebijakan Peningkatan Penggunaan Produksi Dalam Negeri (P3DN) dalam proses tender proyek pemerintah. Sementara, ekspansi pabrik baja Krakatau Steel di Cilegon, Banten, senilai USD460 juta atau setara dengan Rp6,2 triliun diproyeksikan menambah jumlah produksi baja lembaran panas (hot rolled coil/HRC) sebanyak 1,5 juta ton per tahun.

Perluasan pabrik yang diperkirakan akan selesai pada tahun 2019 itu diharapkan mampu mengatasi defisit baja nasional termasuk mengurangi defisit neraca perdagangan akibat impor baja yang mencapai USD7,2 miliar pada tahun 2014.

Sebelumnya telah ditandatangani nota kesepahaman antara Krakatau Steel dan PT Krakatau Posco pada tanggal 12 Mei 2016 untuk pembangunan kluster baja tahap dua sebagai tahapan menuju target kapasitas produksi baja nasional sebesar 10 juta meter kubik per tahun.

Saat selesainya proyek ini, perseroan akan memiliki kapasitas rolling sebesar 4,65 juta ton per tahun, meningkat dari 3,15 ton per tahun saat ini. Direktur Utama Krakatau Steel Sukandar mengatakan, proyek perluasan ini merupakan wujud nyata perseroan mendorong investasi nasional, khususnya di Cilegon dan Provinsi Banten untuk memberikan kontribusi terhadap ekonomi daerah berupa penyerapan tenaga kerja, serta efek berantai sektor ekonomi baik formal maupun nonformal.

Sukandar mengatakan, tahap selanjutnya akan dibangun fasilitas tambahan berupa reheating furnance, finishing mill, down coller untuk meningkatkan kemampuan produksi baja lembar panas lebih tipis. ”Proyek ini dikerjakan konsorsium SMS Group GmbH dan PT Krakatau Engineering untuk menghasilkan mesin yang lebih efisien dalam penggunaan energi serta menghasilkan produk yang lebih berkualitas,” ujarnya.

 garudaqq.org  http://adukiukiu.com/  inidewa365.org photo AB230x90gif_zps839436ce.gif
Share on Google Plus

About BERITA INDONESIA

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Poskan Komentar